“Sampai kapan gw berlatih parkour?”. Sebuah catatan singkat dari Hendry Hilmawan (@axl_extreme)

Di note ini gw hanya sekedar sharing tentang pengalaman pribadi gw dan terinspirasi oleh banyak orang yang bertanya ke gw: “sampai kapan loe berlatih parkour?”. Pertanyaan yang bagus menurut gw. Semua diantara kita pasti mempunyai motivasi berbeda untuk berlatih parkour. Ada yang biar keren, biar bisa lompat dari lantai dua, biar fisiknya kuat, biar kurus/gemuk atau lebih berotot, dan lain-lain.

Itu hanya sedikit contoh dari sebagian motivasi para teman-teman kita. Nah, pertanyaannya: “sampai kapan loe berlatih parkour?”

Sampai bisa terkenal? (mungkin ada orang yang seperti ini)

Sampai bisa flip? (kan keren tuh katanya kalau sudah bisa flip-flip, setelah itu jadi stunt man)

Sampai bisa jago? (ada juga loh orang seperti ini)

Mungkin itu juga hanya sebagian contoh kecil saja dan mungkin bisa jadi Anda orang yang seperti di atas?

Ok, kita tinggalkan semua hal yang tidak penting, saatnya mengoreksi diri masing-masing untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Setelah gw banyak mendapatkan pertanyaan dari orang-orang, baik dari teman-teman parkour, ataupun orang lain, bahkan dari orang yang paling dekat dengan gw pun pernah bertanya ke gw, pada saat mereka bertanya: “sampai kapan loe berlatih parkour?”, pada saat itu juga gw hanya bisa menjawab dengan jawaban simple: “sampai gw tua dan tidak sanggup berdiri lagi”.

Setelah gw menyadari dan gw bertanya kepada diri gw sendiri: “sampai kapan gw berlatih parkour?”, setelah pulang latihan gw membuka dan banyak mempelajari lagi artikel yang telah gw download, tidak sampai di situ saja, gw teruskan dengan browsing untuk mencari artikel tentang parkour yang belum gw dapat, karena bagi gw membaca dan mempelajari semua artikel yang gw dapat makin memperluas pengetahuan gw tentang parkour. Gw baca artikel tentang kehidupan dan metode latihan George Hebert, gw melihat banyak video tentang interview David Belle, dll.

Setelah semua artikel tersebut tersaring dan masuk ke dalam otak, gw akhirnya dapat jawaban sesungguhnya dari diri gw sendiri tentang “apa itu parkour?” dan “sampai kapan gw berlatih parkour?”. Jawaban gw adalah “sampai semua terbiasa”. Terbiasa di segala aspek kehidupan (segala kondisi cuaca, lingkungan, dll). Gw akan melakukan semuanya sampai gw terbiasa dan tidak merasa lelah lagi.

Sampai kapan gw melakukan lari sprint? Sampai gw merasakan seperti jalan biasa.

Sampai kapan gw berlatih memanjat? Sampai gw seperti menaiki tangga biasa.

Sampai kapan gw melakukan push up? Sampai terasa ringan/seperti bangun dari tidur.

Sampai kapan gw berlatih pistol squad? Sampai gw seperti merasa baru bangun dari tempat duduk.

Sampai kapan gw melakukan muscle up? Sampai gw seperti mengangkat jemuran.

Sampai kapan gw melakukan pull up? Sampai gw seperti memakai baju.

Sampai kapan gw berlatih precision? Sampai gw merasakan seperti melangkah biasa.

Sampai kapan gw berlatih dips? Sampai gw seperti memakai celana.

Sampai kapan gw berlatih parkour? Sampai semuanya menjadi terbiasa seperti gw bernafas. 

Sampai kapan gw berlatih fisik? Sampai semuanya tidak terasa lelah lagi yang berarti sampai gw tidak bernafas lagi.

Mohon maaf sebelumnya jika ada kata-kata yang salah dan tidak berkenan di hati teman-teman. Dari note pendek ini semoga bisa diambil hikmahnya untuk teman-teman semua baik dari PKID maupun orang lain. Respect!

Inspired by : The people, Friends, George Hebert, David Belle, My 2nd family (PKID), My 1st family (My wife, Karla and Axl), Almarhum Bokap dan kakek gw yang telah memberi ilmu dan motivasi. 

Source: http://www.facebook.com/notes/hendry-hilmawan/sampai-kapan-gw-berlatih-parkour/282934692658# (dengan sedikit penyuntingan)

Check out these awesome collaboration of @ParkourID (represented by @FerdiThe13th) and @ilightthis. Go street arts!

@ParkourID – http://www.parkourindonesia.web.id

Parkour adalah seni bergerak dan metode latihan natural yang bertujuan untuk membantu manusia bergerak dengan cepat dan efisien. Parkour mengunakan beberapa gerakan seperti berlari, memanjat, meloncat untuk melatih kemampuan manusia untuk melewati segala bentuk rintangan di berbagai situasi dan kondisi di lingkungan urban atau rural.

Untuk berlatih parkour seorang tidak membutuhkan perlengkapan spesial. Hanya menggunakan sepatu lari, kaos, dan celana yang nyaman untuk lari. Parkour adalah cara hidup, cara belajar untuk menguasai kemampuan diri kita dan terus berkembang ke level fisik yang lebih sehat.

Komunitas parkour di seluruh dunia itu adalah komunitas anti kompetisi yang berarti bahwa kita berlatih bukan untuk menjadi lebih hebat dari orang lain, tapi untuk menjadi lebih baik dari kemampuan diri kita sendiri di hari kemarin.

 

===================================================

@ilightthis – http://www.facebook.com/group.php?gid=145001841616

“Lighting graffiti is a new wave in urban art”

dengan campuran dari beberapa elemen dari art & visual, dan fotografi maka terciptalah sebuah aliran dalam seni urban yaitu Lighting Graffiti.

kegiatan kami selalu dilakukan pada malam hari (terutama malam minggu) dan kami selalu berpindah-pindah area di dalam kota Jakarta.
kami sangat senang kalau teman2 bisa bergabung dengan kami dalam melakukan kegiatan rutin kami ini.
…we’re just Tagging and Bombing the sky of the city…

Light2Light1

Strength from Adversity

A man found a cocoon of a butterfly. One day a small opening appeared, he sat and watched the butterfly for several hours as it struggled to force its body through that little hole.

Then it seemed to stop making any progress. It appeared as if it had gotten as far as it could and it could go no farther.

Then the man decided to help the butterfly, so he took a pair of scissors and snipped off the remaining bit of the cocoon. The butterfly emerged easily. But it had a swollen body and small, shriveled wings.

The man continued to watch the butterfly because he expected that, at any moment, the wings would enlarge and expand to be able to support the body, which would contract in time.

Neither happened! In fact, the butterfly spent the rest of its life crawling around with a swollen body and shriveled wings. It was never able to fly.

What the man in his kindness and haste did not understand was that the restricting cocoon and the struggle required for the butterfly to get through the tiny opening were nature’s way of forcing fluid from the body of the butterfly into its wings so that it would be ready for flight once it achieved its freedom from the cocoon.

Sometimes struggles are exactly what we need in our life. If nature allowed us to go through our life without any obstacles it would cripple us. We would not be as strong as what we could have been. And we could never fly.

 

Parkour di mata seorang tenaga pendidik di Sukabumi

Mengenal Parkour adalah salah satu kesempatan terbesar saya berikutnya yang kemudian semakin menguatkan kesadaran saya atas ikatan pada hal-hal terbaik dalam hidup.

Selamat menyebarluaskan Parkour di Sukabumi buat Alex Atmadikara! Masih banyak daerah lainnya juga di Indonesia yang perlu diluruskan pemahamannya tentang apa itu Parkour yang sebenarnya.

American Parkour released an article as a respond to recent CNN article featuring Sean Hannah

It’s not just that they don’t have a full mastery of the techniques. If they haven’t been training long enough, they simply aren’t experienced enough to fully understand each of the techniques, and how to explain them. Just like you wouldn’t learn baseball from someone who first picked up a bat a year ago, or martial arts from a yellow belt, you don’t want to learn parkour from an inexperienced teacher. This article was inspired by a recent CNN article featuring Sean Hannah, who was a student at Primal Fitness just last summer. By watching the video, you can clearly see his inexperience with parkour techniques. It is dangerous to have inexperienced people teaching parkour, and every injury that results from a inexperienced teacher results in more negative press for parkour.

Last night, I posted my thought about CNN Health Minute article. As I said, that Sean Hannah guy didn’t seem walking in the wrong direction. He explains the history and philosophy of parkour pretty well. But then comes the videos.

For those of you who have trained parkour must’ve understand that you can’t jump and do a breakfall like he did. I mean, the article from American Parkour above is now answered my question. Hannah was a student at Primal Fitness just last summer! It means he’s just aprrox. So it’s around 6 months, isn’t it?

6 months could make you understand the fundamental well but I don’t think so with the techniques, except you’re training for 24/7 in those months. I guess it’s not a problem if CNN interviewed him (since media won’t care about which one is parkour or not), but it became everyone’s concern since Hannah opened a parkour class in a gym.

This is a challenge to every practitioners that we spread parkour just the way we already understand it. Parkour teaches us to measure ourselves and if you’re doing it right, you’ll know when is the right time for you to be ready to share what you’ve got from your parkour training.

Parkour on CNN Health Minute

You also have to be mentally ready. “Just like playing golf, tennis or other physical activities, you’re always thinking about the next step,” he says. “You need to be focused with each movement that you take and never second-guess yourself.

This Sean Hannah guy explains parkour in a pretty good way. And another good thing is CNN also interviewed Dr. David Johnson (former Olympian and orthopedic surgeon) that warns, “Parkour is not a competitive sport. It is a vigorous form of exercise.”

Hannah has already got a good understanding about the philosophy but somehow I’m kinda worried after watching the 2 videos *click here if you can’t watch the video below* about him on CNN.com. I learned that we have to tuck our feet in almost every jumps we do (especially in precision jump) so we can focus on our foot placement and landed precisely.

This one is a very basic technique and that’s why I’m kinda worry about it. But, let’s say that he’s just quite nervous on camera. You did a great job, buddy!

http://i.cdn.turner.com/cnn/.element/apps/cvp/3.0/swf/cnn_416x234_embed.swf?context=embed_edition&videoId=health/2009/11/23/hm.parkour.workout.cnn

Cerita Singkat Dari Jamming Nasional Parkour Indonesia 2009

Kamis, 15 Oktober 2009

Rombongan Parkour Jakarta (8 traceur + 1 traceuse) ditambah seorang traceur Parkour Bekasi berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 2 siang, lengkap sama acara si Inno dateng mepet pula. Untungnya tiket dah dipesen 2 hari sebelumnya, total tiket berangkat ke Stasiun Kota Baru Malang abis 52ribu rupiah per orang (ditambah seribu perak mungkin gara2 waktu itu pesen duluan). Belom ada setengah jam kereta jalan, variasi pengamen udah nongol, dari yang nyanyi sampe yang cuma semprot2 Bayfresh ke bawah kursi ada. Nggak aneh kalo adek gw sempet kasih tips buat bawa receh banyak2 sebelom naik kereta ekonomi.

Emang rasanya naik kereta ekonomi bener2 ngasih gw suasana baru menikmati transportasi umum, malah waktu itu @ordinary_wisnu sempet bilang kalo naik kereta ekonomi bisa jadi salah satu cara merasakan gimana jadi manusia Indonesia seutuhnya. Berkali2 lewat tukang sapu, tukang nyanyi, tukang jual alat sulap, tukang jualan alat pijet, tukang jualan voucher HP, semuanya ada. Dan tawaran air, kopi, mijon (Mizone), dan Pop Mie selalu muncul dan baru ilang menjelang tengah malem.

Beruntung Parkour Jakarta berangkat rombongan jadi kursi duduknya saling tatap muka dan yang paling asiknya dari posisi duduk kayak gitu kaki bisa seenaknya diselonjorin ke depan. Banyak cara buat killing time di jalan, untungnya sebelom pergi udah pada beli kartu 1 pack ditambah ada yang bawa rubik’s cube. Sepanjang jalan mulailah atraksi sulap yang singkatnya dapet julukan “bangke magician. Yang bikin salut 2 orang bapak2 di samping tempat duduk kita anteng aja main 41 dari jam 8 malem sampe jam 2 pagi. Kalo udah bener2 mati gaya tapi pengen tidur badannya lurus? Gampang! Tinggal selonjoran di bawah kursi!

Sekitar tengah malem, rombongan kita ketemu sama rombongan Parkour Bandung, Jogja, sama Solo di Stasiun Jebres. Lewat dari situ suasana kereta udah mulai adem dan sepi, baru lah satu per satu rombongan bisa istirahat.

Jumat, 16 Oktober 2009

Sekitar jam 9 pagi rombongan sampe di Malang, ini berarti ngaret sekitar 1 jam dari jadwal yang harusnya jam 7.41. Sesuai arahan dari tuan rumah Malang, dari Stasiun Kota Baru Malang kita harus naik angkutan umum ke Terminal Landungsari, dari situ baru lanjut ke kampus Universitas Muhammadiyah Malang. Berhubung perut rombongan masih pada belom diisi, rombongan langsung meluncur ke Kedai Assalamualaikum yang ada di seberang kampus UMM.

Yang bikin kaget pas liat menu: makanan + minuman nggak ada yang harganya lebih dari 10ribu! Gw sama Ronny (Parkour Bandung) sama2 pesen Ayam Kremes + Nasi Sayur Tahu Tempe, ngarepnya biar ayam kremesnya lengkap jadi kayak timbel. Ternyata pas makanan dateng itu ayam kremes ternyata udah sama nasi, jadi total2 langsung 2 piring sekaligus! Ditambah minum es dawet + es teh manis, semua makanan sama minum gw total cuma abis 12.500 perak!

Puas makan, tiba waktunya buat temen2 yang muslim melaksanakan sholat Jumat. Rombongan dikumpulin dulu di depannnya UMM Dome berhubung transportasi ke penginepan di Batu baru dateng abis jumatan. UMM Dome ini ternyata bakal dipake buat konser Nidji sama Changcuters yang di posternya ada tagline: konser musik dengan nuansa 3D. Gw nggak terlalu ngerti maksudnya gimana, apa nontonnya pake kacamata 3D apa gimana. Sekitar satu jam bisa gw pake buat tidur ngampar sambil nunggu yang lain pada Jumatan.

Sekitar jam 2an angkutan untuk ke penginepan di Batu udah dateng dan ini angkutan bener2 layak dikasih julukan “angkutan kebersamaan” atau mungkin “truk cinta”. Yep, kita naik truk pasir dari Malang ke Batu. Banyak hal yang biasanya gak bisa lo lakuin di dalem bis tapi bisa lo lakuin di atas truk pasir. Misalnya: bikin ge-er cewe yang naik motor di belakang truk, stage dive ditambah dilempar2 di atas truk pasir yang lagi uphill, latihan balance, dll.

Nggak sampe satu jam kita udah sampe di Villa Amigo di daerah Songgoriti, Malang. Tempatnya bersih, mantep lah buat bikin acara gathering2. Hari pertama ini di rundown acara nggak ada acara latihan fisik. Sebagian rombongan milih buat naik ke gunung seberang tempat penginepan tapi gw milih buat tidur aja, lumayan tidur 2 jam harusnya bisa bikin kepala teng-tengan jadi plong dikit dan untungnya terbukti.

Malemnya abis makan baru start sama sesi perkenalan masing2 kota. Di jamming nasional yang pertama diadain ini cukup banyak kota yang kirim perwakilan: Jakarta, Bekasi, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Malang, Pasuruan, sampe Lombok. Perkenalan kelar, berlanjut sama pembahasan parkour yang dipimpin sama Fadli “Bullseye” (Parkour Jakarta) sama Randy “Kopral” (Parkour Bandung). Diakhiri sama nonton bareng video2 parkour yang salah satunya video T.RU STORY buatan traceur2 Rusia yang jadi salah satu most inpiring parkour video buat gw sampe saat ini.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Agak aneh rasanya jam 5 pagi di Malang udah terang, mungkin gara2 lokasinya yang udah makin ke timur jadi makin deket ke zona waktu WITA. Hari ini susunan acara di rundown udah ditulis kalo bakalan full parkour. Nunggu breakfast belom nongol, akhirnya beberapa dari kita cari makan tahu tempe pake kecap, lumayan buat supply protein hari itu. Pagi menuju siang, rombongan udah sampe di salah satu tempat latihan halang rintang TNI di daerah Malang. Nggak lain dan nggak bukan tempat ini bakalan dipake buat latihan “parcours du combattant” yang jadi akar dari parkour. Beberapa ratus meter halang rintang gw jabanin dengan engap dan rasanya stamina harus bener2 digenjot lagi di latihan2 gw selanjutnya. This is my first time doing a “parcours du combattant”.

Selesai dari markas TNI, rombongan balik lagi ke UMM Dome buat istirahat bentar sekalian makan siang diselingin foto bersama mulai dari rombongan per kota, rombongan kribo, rombongan metroseksual, rombongan middle-east faced traceur, sampe traceur2 berbadan chibi sampe yang agak over-weight. Sinar matahari jam 3 sore udah makin lembut, ujan yang tadinya sempet turun juga udah berhenti. Waktunya turun ke sungai di bawah UMM buat latihan “methode naturelle”, metode latihan ini juga jadi salah satu root dari parkour dimana latihan dibikin di alam, sebenernya di latihan kemaren masih jauh dari latihan “methode natrulle” yang asli. Tapi buat latihan yang kemaren aja udah lumayan nguras keringet banyak + latihan barefoot jadi kegenjot juga. It was my first time doing precision jumps rock to rock without shoes. Dan sampe sekarang juga gw masih nyari tempat kayak ginian di Jakarta, mungkin ada yang tau dimana gw bisa nemuin sungai yang punya batu2 gede yang kering di tengahnya?

Selesai magrib baru dateng lagi jemputan kebanggaan kita buat balik ke penginepan. Nggak lama setelah makan malem, rombongan diperkenankan kelayapan. Beberapa rombongan Parkour Jakarta, Bandung, sama Jogja capcus jalan2 ke sekitar penginepan buat cari susu seger, gw cukup sangsi juga apa susu yang dibeli malem2 gitu masih tergolong seger apa nggak soalnya yang ada di kepala gw kalo ngomongin susu seger ya berarti susu yang baru diperah.

Hari ini diakhiri ngumpul bareng di tempat yang sama kemaren tempat sharing filosofi parkour, tapi kali ini buat nonton video2 buatan anak2 Malang yang sempet dijadiin tugas akhir & diikutin lomba film pendek. Last but not least, pembagian kaos jamming nasional 2009 yang kali ini temanya “respect the environment”.

Minggu, 18 Oktober 2009

Hari terakhir di Malang, rombongan Parkour Bandung sama sebagian Parkour Jogja udah pulang duluan buat ngejar kereta dari Surabaya. Sementara sisanya dikasih waktu bebas sampe siang yang rata2 pada diabisin buat lanjutin tidur sama sharing parkour antar komunitas. Siang2 dapet kabar kalo temen2 dari Parkour Bandung ternyata misunderstanding sama keberangkatan dari Surabaya yang akhirnya mereka ngambil kereta juga ke Pasar Senen tapi untungnya pas sampe di Madium mereka denger ada kereta Kahuripan yang bisa langsung ke Bandung.

Parkour Jakarta sendiri baru berangkat dari Malang jam 3 sore and it means another 18 hours on the train. Kali ini gerbong emang lebih sumpek dari waktu kita berangkat, apalagi sampe ada motor bebek ikut masuk ke dalem sambungan gerbong. Tapi mungkin karena udah kebiasa sama perjalanan waktu pergi kemaren, trip balik ke Jakarta kali ini bisa dinikmati lebih banyak dan istirahat lebih banyak juga.

Senin, 19 Oktober 2009

Rombongan Parkour Jakarta sampe di Stasiun Pasar Senen sekitar jam 10 pagi. Semua langsung pisah sama angkutan masing2, dan singkatnya: sampai berjumpa di latihan rutin Parkour Jakarta minggu depan!

Jamnas1Jamnas2Jamnas3Jamnas4Jamnas5Jamnas6Jamnas7