Seruan Untuk Bangkit (A Call to Arms)

Tulisan di bawah ini ditulis oleh Chris ‘Blane’ Rowat, seorang praktisi parkour yang melatih di Parkour Generations di London, dan diposting di pinwc.com. Agar lebih mudah dibaca dan dicerna oleh teman-teman di Indonesia, tulisan ini diterjemahkan oleh Syariif Pontoh dan disunting oleh Willy Irawan. Selamat membaca dan kalau kamu merasa tulisan ini layak disebarkan, sebarkanlah!🙂

Sejak kapan melintasi sebuah tembok sepanjang 30 meter dengan seorang anak menggantung di punggung Anda menjadi hal yang kurang penting dibandingkan melompat sejauh 18 kaki diantara dua gubuk dengan ‘pendaratan seperti di kotak pasir’? Saya tidak peduli dengan langkah panjang dan bersuara nyaring anda, pria berusia 43 tahun itu yang berumur dua kali lipat dari Anda, dua kali lebih kuat, serta ketika turun dari ketinggian 2 meter tidak menghasilkan suara sedikitpun.

Media_http2bpblogspot_wiici

Hal-hal yang harus dihiraukan dalam parkour, ternyata tidak dihiraukan -dan hal-hal yang secara luas dianggap mengesankan tidak lagi dianggap, setelah Anda menggaruk permukaannya. Sistem nilai kita telah dirusak.

Terkadang saya mencoba melihat parkour dari sudut pandang netral, seolah-olah saya belum pernah mendengar parkour sebelumnya.

Apa yang akan saya pikir jika saya menemukan Parkour sekarang sebagai anak berumur 17 tahun, pada tahun 2012? Saya membayangkan diri saya akan berpikir bahwa parkour tampak seperti menyenangkan dan saya mungkin akan menemukan diri saya ditarik ke bagian dari parkour namun saya akan melihat sesuatu yang sangat berbeda dari yang saya lihat 9 tahun yang lalu dan saya tahu hal itu tidak akan semenarik bagi saya dibandingkan dulu.

Continue reading “Seruan Untuk Bangkit (A Call to Arms)”

Japan Trip: Basic Expense and Itinerary

Berhubung gue nggak tau musti mulai dari mana buat postingan seputar trip ber-6 ke Jepang di awal bulan Oktober 2012 kemaren, gimana kalo kita mulai dulu dari total pengeluaran gue mulai dari pesawat, kereta, bis, akomodasi, dan sightseeing selama di Negeri Matahari Terbit nan terkenal mahal segala-galanya ini? Here you go!

Di catetan expense di atas, gue ngilangin detail printilan kayak beli souvenir dan sejenisnya karena tiap orang pasti kebutuhannya beda-beda (dan untuk pengeluaran apply visa sendiri ceritanya bisa dibaca di sini). Untuk makan juga elo bisa liat dominasi onigiri sama ricebowl, karena menurut gue yang paling bersahabat buat super budget traveler ya dua makanan ini, dan dua ini juga yang jadi sahabat sejati perut gue. Lagipula tujuan gue ke Jepang utamanya bukan kuliner kok, jadi ya balik lagi ke budget elo.

*Update 6 Nov 2012: Setelah berhari-hari ngutang detail itinerary, monggo nih!🙂

Expense udah kelar dipost kemaren. Buat yang penasaran isi rombongan #JapanTrip, ini isinya: gue (@qronoz), Willy (@willyirawan), Tommy (@toramichan), Goro (@inggriasto), Rahne (@rahneputri), dan Ucy (@lucianancy). Nah, sekarang mari kita runtut ke sedikit bahasan seputar itinerary selama #JapanTrip:

Continue reading “Japan Trip: Basic Expense and Itinerary”

3 negara dalam 12 jam demi Legoland Malaysia

Bulan Juni kemaren, gue dapet info kalo Legoland Malaysia mulai jualan tiket early bird yang harganya Rp288K. Lumayan penghematan dibanding kalo beli online RM105 atau beli langsung di loket RM140. Tiket yang gue beli itu valid buat 1x masuk kapan aja dari 15-Sep sampe 31-Des 2012. Setelah hunting tiket pesawat murah sana sini, akhirnya dapetlah pergi 25-Sep pake AirAsia Rp289K sama pulang 26-Sep pake Jetstar S$43 atau sekitar Rp334K.

Rencana awal tadinya pengen ngampar di Changi biar nggak keluar duit nginep, tapi setelah ngecek ternyata Jetstar baru bisa checkin 3 jam sebelom, akhirnya dipilihlah buat nginep di Empire Hostel. Lokasinya nggak di tengah kota, tapi yang penting ada tempat buat tidur, gue dapet 8 bed mixed dorm yang harga semalemnya nggak nyampe Rp90K, toh yang penting tidur.

Tibalah tanggal keberangkatan, demi naik bis DAMRI yang jam 4 pagi akhirnya harus bayar taksi Rp25K padahal di argo duma Rp12K gara-gara order by phone. Pas early breakfast di 7-Eleven baru inget kalo boarding pass AirAsia sama web travel document Jetstar yang udah di-print ketinggalan. Yaudahlah, untung data-datanya udah masuk di TripIt app. Petugas counter di Indonesia juga udah melek teknologi kok. Continue reading “3 negara dalam 12 jam demi Legoland Malaysia”

Sponsored Video: [GALAXY Note 10.1] Introducing Samsung GALAXY Note 10.1

GALAXY Note 10.1 is outfitted with the functionality and precision of a pen and paper on a 10.1-inch-large-display, providing endless possibilities to elevate a user’s creativity and productivity.


Featuring an intuitive user experience and armed with superior hardware performance, GALAXY Note 10.1 is designed to simplify idea capturing, information access, and multi-tasking, making each easier and faster.

 

Pengalaman apply visa turis ke Jepang

Setelah persiapan dokumen, itinerary, mempertimbangkan urus sendiri apa pake travel agent, serta tetek bengek lainnya, hari Jumat, 10 Agustus 2012, tiga dari tujuh orang rombongan trip ke Jepang mencoba apply sendiri ke Embassy of Japan yang ada di samping Plaza Indonesia eX. Tiga orang dengan tujuan testing the water dan semacem kamikaze ini adalah gue sendiri, @lucianancy, dan @toramichan. Tiga-tiganya pekerja lepasan.

Rencana awalnya kita masuk jam 8, pas jam layanan visanya buka, tapi karena satu dan lain hal, sebut saja salah satu dari kita kebablasan tidur lagi, akhirnya kita baru masuk sekitar jam 8.45. Tadinya ngincer parkir motor di eX, tapi karena belom buka akhirnya parkir di Hotel Pullman yang ada di seberangnya.

Pas masuk juga nggak ribet, pas gue dateng sih nggak ngantri jadi tinggal bilang satpamnya kalo mau apply visa, nanti tinggal lewatin pintu magnetic lock, tuker KTP sama tanda pengenal, terus masuk ke pintu biru kedua di sebelah kanan, ada tulisannya lah pokoknya. Lewat dari situ baru security check ala bandara, meskipun detektornya bunyi dikit (mungkin gara-gara jam sama belt gue) tetep langsung dilewatin aja kok. Continue reading “Pengalaman apply visa turis ke Jepang”