Catatan perjalanan Parkour Indonesia di tahun yang kelima oleh Muhamad Fadli

Tulisan di bawah ini adalah repost dari tulisan Fadli yang ada di Kompasiana tanggal 17 Juli 2012 berjudul “Dirgahayu Parkour Indonesia”. Paling ada minor edit di typo dan pemisahan paragraf. Selamat menyimak!

Tidak terasa sudah 5 tahun semenjak 17 Juli 2007 Parkour Indonesia berdiri. Banyak cerita suka dan duka di dalamnya. Banyak proses jatuh bangun sampai akhirnya wadah untuk pecinta seni-displin asal Perancis ini bisa menjadi bentuk seperti sekarang ini. Komunitas yang awalnya hanya dimulai dari sebuah forum independent di dunia maya namun berlanjut menjadi satu bentuk komunitas yang terus menerus mulai merambah lintas kawasan, gender, usia, serta berbagai karakter manusia yang ada di Indonesia.

Saat beberapa orang menilai kita hanya sekelompok orang begajulan, suka loncat-loncat kayak kutu loncat, dan segala jenis sebutan bagi mereka yang belum pernah mengenal istilah Parkour. Tapi kita tidak merasa kecil hati karena kita sangat memaklumi pendapat orang yang belum mengenal apa itu parkour.

Untuk itulah di 5 tahun yang lalu sebuah forum yang dikhususkan untuk para penggiat Parkour Indonesia dibentuk. Salah satu tujuannya adalah memperkenalkan apa itu parkour ke masyarakat serta meminimisasi tanggapan-tangggapan miring seperti yang saya sebutkan diatas. Parkour Indonesia mencoba untuk menyebarkan nilai-nilai dan sisi positif dari parkour yang telah banyak mengubah hidup para praktisinya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Lebih sehat, lebih gesit, lebih kuat, dan lebih bijaksana dalam kehidupannya sehari-hari. Lanjutkan membaca “Catatan perjalanan Parkour Indonesia di tahun yang kelima oleh Muhamad Fadli”

Cerita gue mulai dari nggak tau sampai akhirnya dukung Faisal-Biem

Sebelom mulai baca, mungkin elo aneh kenapa gue mendadak ngomongin politik tai kucing di blog gue ini. Apa yang gue tulis di bawah ini murni pendapat gue sendiri dan gue gak dibayar sepeserpun buat ini. Kalo udah keburu males silakan close window/tab-nya, kalo mau baca monggo 🙂

Beberapa bulan lalu gue sama sekali clueless pas denger nama pasangan cagub-cawagub DKI Faisal-Biem. Pelan-pelan mulai tau kalo Faisal-nya itu Faisal Basri, yang sebenernya tetep aja gue gak tau dan cuma kepikir “rasanya pernah denger nama ini di mana gitu”, dan Biem-nya ternyata Biem Benyamin, politisi yang juga anak dari Benyamin Sueb. Udah aja cukup sebatas itu dan belom ada keinginan buat tau lebih banyak karena waktu itu gue merasa cukup sreg sama salah satu pasangan cagub-cawagub lain yang menurut gue lebih kompeten karena udah pernah mimpin suatu kota.

Timeline Twitter yang tadinya masih adem ayem dari info pilkada pelan-pelan mulai muncul akun-akun untuk kampanye, beberapa calon juga utilize Youtube channel dan salah satunya Faisal-Biem. Yang menarik adalah pas waktu itu gue buka channelnya, gue ketemu selusin video mulai dari seleb, seniman, sampe aktivis yang ngasih testimonial buat Faisal-Biem. Semuanya key message-nya hampir sama, ngajak viewernya buat ikut dukung calon independen yang gak perlu bales budi ke partai politik tapi ke warga.

Setelah nonton beberapa videonya gue cuma kepikir: “Gila, dibayar berapa ya orang-orang ini yang ada di video sampe mau ngasih testimonial kayak gitu?”. Dan nggak lama dari itu pertanyaan gue terjawab pas @pandji ngetwit kalo testimonial yang ada di video itu dia nggak dibayar. Agak susah nerima kenyataan kayak gitu karena yang gue tau kebanyakan mainan politik sini tuh suara bisa dibayar. Yah tapi untuk urusan ini gue percaya aja. Lanjutkan membaca “Cerita gue mulai dari nggak tau sampai akhirnya dukung Faisal-Biem”

India Trip: Ketemu cerita Pandawa Lima di Mahabalipuram

Hari Selasa pagi tanggal 8 November 2011, gue sama Idznie udah grusak grusuk di lodge buat checkout dan berangkat ke terminal bis Chennai dan lanjut ke Mahabalipuram. Agenda hari itu cukup ketat soalnya sorenya kita udah harus balik lagi ke stasiun ngejar train trip. Setelah yakin sama referensi Susheel kemaren yang bilang kalo trip ini bisa kelar setengah hari aja, kita akhirnya mutusin buat berangkat, untunglah autos pagi itu cukup gampang dicegat dan ditawar.

Sekitar jam 6 pagi, kita nyampe di Thiruvanmiyur Bus Depo. Di sini bakal ada Venkat dari Chennai Parkour yang bakal bantuin kita buat nyari bis yang paling cepet berangkat ke Mahabalipuram, sebenernya bisa sih kalo mau sendiri, tapi balik lagi, karena agenda hari ini cukup ketat, jadi lebih enak percaya sama temen kita sendiri daripada dengerin kenek yang pengennya kita naik bis padahal gak jelas rutenya ke mana. Bis pilihan Venkat ternyata pas banget, bis ini ambil rute paling cepet dan masuk highway yang nyisir sepanjang pesisir timur, yang kalo sempet diperhatiin, masih ada bekas-bekas tsunami taun 2004 kemaren. Lanjutkan membaca “India Trip: Ketemu cerita Pandawa Lima di Mahabalipuram”

India Trip: Chennai, kota dengan pantai terpanjang di India

Setelah lama berhutang postingan seputar trip ke India, izinkan gue untuk mulai ngeberesin seabrek draft yang masih mandek di laptop sini. Semoga pelan-pelan cicilannya mulai lunas. Amin! (PS: Trip ini sebenernya udah dari November 2011, baru sempet postingnya sekarang)

Touchdown India!

“Akhirnya nyampe India juga ye!”. Kira-kira itu yang gue bilang ke Idznie waktu pesawat AirAsia AK 1253 mendarat di Anna International Airport hari Minggu, 6 November 2011. Pas keluar pesawat rasanya kayak di Jakarta, tapi udaranya berasa lebih kering. Nggak ada lima menit, kita udah ada di loket imigrasi yang ngantrinya sendiri abis 30 menit. Nggak ada masalah di imigrasi, begitu juga sama kekhawatiran bagasi yang kenapa-kenapa. Waktu itu isi dompet cuma ada USD sama sisaan Ringgit dan akhirnya gue memutuskan buat nuker 100 USD dan waktu itu dapetnya 4400 Rupee.

Hecticnya pintu keluar arrival hall udah keliatan mulai dari jauh, berjubel orang yang entah penjemput apa supir taksi apa malah supir bajaj gue juga nggak tau. Untungnya hari itu kita udah janjian sama Susheel dari Chennai Parkour yang udah nunggu hampir 2 jam gara-gara pesawat delay ditambah antrian imigrasi dan nunggu bagasi yang agak kelamaan. Dia bantuin kita cari taksi buat ke hostel sebelom meluncur balik ke kantornya. Lupain taksi-taksi AC yang ada di Jakarta, taksi di Chennai ini bentuknya kayak yang ada di video klip Dr Bombay – Calcutta, lengkap dengan AC alam dan USB flash drive isi lagu India nyolok ke tape mobil.

#float2nature – Cerita di balik 36 jam perjalanan dan 17 jam di Dieng

Mungkin udah banyak temen-temen yang denger cerita seputar trip rombongan Float2Nature tanggal 8-10 Juni kemaren mulai dari yang selow sampe yang ngotot. Dalam rangka meramaikan dokumentasi cerita, gue juga mau ikutan share seputar acara kemaren mulai dari meeting point sampe akhirnya balik lagi ke Jakarta lagi.

Jujur gue mah bukan fans berat Float, lagu yang keinget cuma yang ada di soundtrack ‘3 Hari untuk Selamanya’ sama ‘Laskar Pelangi’. Alasan utama kenapa gue ikut Float2Nature ini karena gue belom pernah ke Dieng. Menariknya, @float_project @lembahpelangi @picnicholic ngebungkus paket camping ini sama intimate concert di atas gunung sampe ada acara nanem pohon segala. Setelah cukup terkompor sama obrolan di linimasa dan video teasernya, akhirnya gue daftar trip ini.

Karena udah lama gak camping, mulailah bongkar cari info sana sini mulai dari average temperature buat nentuin seberapa banyak yang musti dipacking, ngecek availability sinyal Indosat di Dieng, nyari sleeping bag baru soalnya kalo @alderina bilang daripada sewa/minjem mending beli baru biar bisa dipake terus-terusan, dan berbagai info penting gak penting lainnya. Lanjutkan membaca “#float2nature – Cerita di balik 36 jam perjalanan dan 17 jam di Dieng”